Wednesday, 8 December 2010

Anak Cacingan Tidak Mudah Kena Alergi


Infeksi cacing tambang harus diatasi karena bisa menyebabkan anak kurang gizi sehingga pertumbuhannya terganggu. Namun ada juga sisi positifnya, parasit tersebut bisa memperkuat sistem imun tubuh sehingga tak mudah mengalami alergi.

Temuan ini diungkap oleh Dr Johanna Feary dari University of Nottingham setelah menganalisis 21 studi tentang alergi. Berbagai studi tersebut dilakukan di Amerika Selatan, Kuba, Vietnam dan Turki serta melibatkan 29.000 partisipan anak.

Dalam analisisnya, Dr Feary menyimpulkan bahwa aknak yang sedang terinfeksi cacing tambang (hookworm) memiliki kekebalan untuk melawan reaksi alergi. Oleh karenanya, anak-anak tersebut memiliki risiko alergi 31 persen lebih rendah dibandingkan anak sehat yang tidak cacingan.

Eksperimen yang dilakukan Dr Feary terhadap beberapa partisipan makin menguatkan kesimpulan tersebut. Ketika ia memberikan tes alergi, anak-anak yang cacingan lebih jarang memberikan reaksi seperti gatal-gatal, sesak napas atau bersin-bersin.

Dikutip dari Reuters, Rabu (8/12/2010), kesimpulan ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa gaya hidup yang terlalu bersih justru membuat sistem kekebalan tubuh melemah. Akibatnya manusia moderen justru makin mudah terserang penyakit, terutama yang dipicu oleh kuman.

Meskipun demikian, teori ini masih terus diperdebatkan. Meski sejumlah bukti ilmiah membuktikan dugaan tersebut, ada juga penelitian lain yang menyimpulkan sebaliknya misalnya anak yang terbiasa cuci tangan sejak kecil lebih jarang mengalami serangan asma dan alergi.

Terlebih, kesimpulan yang dibuat Dr Feary tidak menjelaskan apakah efek tersebut benar-benar dipicu oleh keberadaan cacing tambang di dalam usus. Butuh penelitian lebih lanjut untuk mengungkap kemungkinan adanya faktor lain yang mempengaruhinya.

Perjalanan Nikotin dari Paru-paru ke Otak Hanya 7 Detik


Nikotin merupakan salah satu zat yang dilepaskan ketika seseorang merokok. Ternyata waktu yang dibutuhkan oleh nikotin untuk berjalan dari paru-paru ke otak hanya selama 7 detik saja.

Salah satu obat yang paling banyak disalahgunakan penggunaannya adalah nikotin, yaitu bisa berasal dari merokok atau mengunyah tembakau. Selain itu nikotin juga termasuk salah satu zat yang paling adiktif dibandingkan dengan obat-obatan lain.

Seperti dikutip dari BBCNews, Rabu (8/12/2010) perjalanan nikotin dari paru-paru ke otak terbilang sangat cepat yaitu hanya 7 detik saja. Setelah sampai di otak nikotin akan merangsang pelepasan dopamin, yaitu suatu neurotransmitter penting yang terlibat dalam suasana hati (mood), selera makan dan fungsi otak lainnya.

Ketika seseorang merokok, maka nikotin akan masuk dan mulai menumpuk di dalam tubuh. Lama kelamaan seseorang akan terbiasa dengan nikotin dan jika ia tidak mendapatkan jumlah yang sama maka tubuh akan meminta lebih. Dan biasanya jumlah nikotin yang masuk akan semakin besar atau meningkat.

Pengguna nikotin bisa dengan cepat menjadi ketergantungan, karena hanya dibutuhkan sedikit rokok untuk bisa membuat seseorang memiliki kecanduan. Jika seseorang tiba-tiba berhenti merokok, maka ia akan mengalami efek balikan (withdrawal effect) seperti cemas dan perubahan suasana hati.

Salah satu hal yang tak bisa dipungkiri adalah kecanduan nikotin biasanya dimulai sejak seseorang mencoba-coba atau bereksperimen dengan rokok selama setahun. Dalam banyak kasus kondisi ini terkadang sudah dimulai sejak seseorang masih bersekolah atau berusia 13-14 tahun.

Sebagai obat murni, nikotin hanya memiliki sedikit efek buruk bagi kesehatan fisik seseorang. Tapi zat-zat kimia lain yang terdapat di dalam rokok dan bergabung dengan nikotin inilah yang bisa menimbulkan banyak kerusakan bagi tubuh. Karena ketika sebuah rokok dibakar dan dihisap, maka ada ratusan senyawa kimia yang dihasilkan dan berisiko besar terhadap kesehatan.

Nikotin awalnya ditemukan oleh duta besar Prancis, Jean Nicot pada pertengahan abad XIV. Saat itu masyarakat mempercayai nikotin sebagai obat. Setengah abad kemudian baru diketahui bahaya dari nikotin bagi tubuh, namun hanya beberapa orang saja yang mampu berkata tidak terhadap nikotin.

Cepat Botak Karena Rokok


Sebagian besar penyebab rambut rontok adalah seringnya penggunaan bahan kimia, seperti saat mewarnai, pengeritingan, meluruskan rambut berulang-ulang atau salah menggunakan shampo. Tapi bagi perokok, racun pada rokok juga dapat memicu kerontokan rambut yang bikin cepat botak.

Rokok tak hanya menyebabkan penyakit serius seperti jantung, paru-paru atau kanker, tetapi juga merusak penampilan seperti membuat kulit keriput, gigi kuning dan juga rambut rontok yang berpotensi mempercepat kebotakan.

Jumlah nikotin dan karbon monoksida dalam rokok telah ditemukan dapat membatasi aliran darah. Hal ini terjadi karena setiap kali jumlah nikotin bertambah di dalam otak, menyebabkan tubuh mengaktifkan hormon stres sehingga membebaskan lemak yang disimpan ke dalam aliran darah.

Hal tersebut dapat mengurangi oksigen dalam aliran darah. Padahal, agar folikel rambut berfungsi secara optimal dan menghasilkan pertumbuhan rambut di tingkat normal, sel harus mendapatkan oksigen, nutrisi dan mineral dalam jumlah yang cukup.

Dilansir Livestrong, Rabu (8/12/2010), merokok telah ditemukan dapat meningkatkan kadar hormon yang bertanggung jawab untuk kerontokan rambut pada pria.

Sebuah studi di Harvard University yang meneliti 1.241 pria paruh baya, membandingkan antara perokok dan non-perokok. Temuan menunjukkan peningkatan dihydrotestosterone (DHT) sebesar 13 persen dan juga peningkatan 9 persen testosteron pada perokok.

Hormon DHT merupakan penyebab alopecia androgenetic, yaitu kebotakan yang sering terjadi pada pria dengan memperpendek pertumbuhan (anagen).

Selain itu, merokok dapat mengganggu atau merusak sistem sirkulasi yang bertanggung jawab untuk mengirimkan darah ke sel-sel yang sebenarnya dari folikel rambut.

Merokok juga diketahui dapat mempercepat penuaan. Profesor William MacNee dari University of Edinburgh mengatakan asap rokok dan polutan lainnya dapat mempercepat penuaan dengan membuat peradangan di paru-paru

Monday, 6 December 2010

Kelinci sumatra, kelinci paling langka di dunia


Kelinci sumatra atau Nesolagus netscheri tercatat sebagai kelinci paling langka di dunia. Hewan ini dinyatakan hampir punah oleh International Union for Conservation of Nature. Sebelumnya, hewan ini pernah dikira punah hingga pada tahun 1990-an berhasil terfoto oleh seseorang.

Kelinci ini terletak pada tempat yang sangat terisolasi, hanya terdapat di hutan-hutan Bukit Barisan, Sumatra. Karena mereka terletak di tempat yang sangat terisolasi, informasi tentang perilaku dan habitatnya sangat minialm. Bahkan, masyarakat setempat tak memiliki bahasa lokal untuk menyebutnya dan ada yang tak menyadari keberadaannya.

Berdasarkan informasi yang sangat minimal itu, diketahui bahwa kelinci ini aktif pada malam hari. Di siang hari, mereka menghabiskan waktu untuk bersembunyi di dalam liang yang ditinggalkan hewan lain. Sejauh ini, tak ada bukti bahwa mereka menggali lubangnya sendiri.

Kelinci sumatra terlihat menarik sebab memiliki warna bulu yang bermotif garis. Diperkirakan, warna bulu tersebut dimiliki agar kelinci itu bisa menyesuaikan diri dan bersembunyi di dasar hutan hujan tropis. Secara umum, kelinci ini memiliki bulu yang tebal dan lembut, garis-garis yang berwarna coklat kacang, serta satu garis yang memanjang dari tengkuk hingga ekor. Ciri lainnya adalah memiliki ekor warna merah, berbobot lebih kurang 1,5 kg, dan telinga yang lebih kecil dari kelinci umumnya.

Kelinci ini tidak mencari makan seperti hewan lainnya yang berkeliling wilayah tertentu. Mereka memilih untuk hanya berada di daerah sekitar liangnya dan memakan tanaman apa saja yang ada di sana. Tentang reproduksinya, belum ada data yang cukup jelas karena kajian tentang jenis kelinci ini jarang.

Jam megah di Mekah



Mekah punya jam termegah di dunia yang sudah mulai berdetak Kamis (12/8). Menara jam dengan ketinggian 604,4 meter memiliki 4 muka jam. Setiap muka memiliki diameter 46 meter dan menghadap ke empat arah yang dapat terlihat dari jarak hampir 30 meter.

Menara ini tak ubahnya menara jam Big Ben di Inggris yang diberi sentuhan Arab. Di bawah setiap jam, terdapat tulisan dalam kaligrafi Arab. Menara juga dilengkapi dengan 21.000 lampu hijau dan putih yang menyala 5 kali sehari, menandakan waktu salat.

Jam megah ini dibuat dengan ambisi menggantikan Greenwich Mean Time sebagai pusat waktu dunia. Akan tetapi, Pop Science menganggap ambisi itu tidak mudah tercapai, terutama negara-negara di bagian barat, tempat orang-orang membanggakan Greenwich. Lagipula, negara-negara saat ini sudah terlanjur mengalibrasi jam berdasarkan waktu Greenwich. Orang tidak akan dengan mudah mengganti kalibrasi itu hanya karena Saudi Arabia membuat menara jam, terlepas dari betapa hebatnya menara tersebut. Demikian Pop Science menyebutkan.

Makna jabat tangan


Dikutip dari Wikipedia, jabat tangan merupakan ritual pendek di mana dua orang saling menggenggam tangan kanan atau kiri mereka, dan seringkali disertai oleh sentakan kecil pada tangan yang tergenggam. Umumnya jabat tangan dilakukan saat orang memberi salam dalam suatu pertemuan tertentu--baik di awal maupun akhir pertemuan--mengucapkan selamat, memberi apresiasi, serta membuat persetujuan. Jabat tangan biasa dilakukan pula saat berkenalan dengan orang yang pertama kali dijumpai.

Dengan berjabat tangan, niat baik ditujukan kepada pihak yang tangannya dijabat. Secara implisit, jabat tangan mengirimkan isyarat keterbukaan. Kebiasaan itu menjadi sebentuk komunikasi nonverbal. Oleh karena itu, pada beberapa budaya, orang yang menolak jabatan tangan tanpa alasan bisa dikatakan kurang sopan.

Tradisi jabat tangan juga adalah salah sebuah perlambang cara komunikasi tertua, yang telah ada dalam berbagai tradisi kebudayaan dunia berabad-abad silam.

Ragam salam
Meski demikian, jabat tangan hanyalah salah satu cara memberi ungkapan salam. Beberapa cara lain yang sama universalnya seperti lambaian tangan, ciuman pipi, high-five, dan menepuk bahu. Tetapi selain itu, di dalam khazanah kebudayaan bangsa-bangsa dunia masih terdapat banyak sekali ungkapan gerak tubuh unik yang digunakan sebagai simbol pemberian salam.

Contohnya saluto romano, gestur lengan dipegang lurus ke depan, dengan telapak tangan menelungkup dan jari-jari menyentuh. Ini merupakan tradisi Roma kuno. Sayangnya kultur ini kemudian dianggap identik dengan gerakan fasisme Italia sehingga dihapuskan setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Ada pula ungkapan salam namaste, berasal dari India dan Nepal. Ungkapan ini sangat khas, yakni dengan membungkukkan tubuh sedikit, dengan tangan tertangkup di depan dada sambil berucap, "Namaste.."

Salam sangat penting dalam hal percakapan. Salam mengawali dan menutup percakapan. Salam yang baik berarti awal yang baik, dan sebaliknya. Maka tradisi salam layak dilestarikan, terutama tradisi-tradisi yang memiliki unsur kekhasannya.

Angklung ditetapkan sebagai warisan dunia


Alat musik angklung ditetapkan sebagai The Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity, pada sidang ke-5 Inter-Governmental Committe Unesco di Nairobi, Kenya, Selasa, (16/11).

"Ini membuktikan betapa kekayaan budaya Indonesia untuk alat musik angklung pantas menjadi warisan budaya dunia tak benda," kata Tjetjep Suparman, Direktur Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, ditirukan I Gusti Ngurah Putra, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, di Jakarta, Rabu (17/11).

Angklung adalah alat kesenian asal Jawa Barat yang menggunakan alat musik dari bambu. Jenis bambu yang dipakai biasanya menggunakan awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu ber warna putih). Setiap nada yang dihasilkan dari bunyi tabung bambu yang berbentuk wilahan dari ukuran kecil, sedang, hingga besar, akan membentuk irama lagu yang mengasyikkan.

Kendati muncul pertamakali di daerah Jawa Barat, angklung dalam perkembangannya, berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatra. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana. Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena, tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.

Direktur Pengembangan Bisnis Saung Angklung Udjo, Satria, yang dimintai komentarnya mengatakan, penetapan angklung sebagai The Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity, merupakan momentum yang luar biasa. "Ini sebuah pengakuan yang pantas kita syukuri dan merupakan momentum yang luar biasa," katanya.

Ia menjelaskan, orang Indonesia cenderung melihat angklung dari fungsi kebendaannya saja. Padahal, dalam angklung ada banyak nilai-nilai yang bisa diambil. Hal ini merupakan tantangan. Ketika angklung sudah merupakan warisan dunia, nilai-nilai lain itu harus lebih dimasyarakatkan. "Angklung dapat digunakan dalam industri kesehatan, seperti untuk terapi kesehatan dan banyak nilai-nilai lain yang bisa dikembangkan?" Satria memberi contoh.

Friday, 3 December 2010

Makhluk Misterius dari Perairan Sulawesi

Para ilmuwan baru-baru ini menemukan makhluk misterius di kedalaman perairan antara Sulawesi dan Filipina. Makhluk tersebut memiliki tubuh yang menyerupai cacing dan cumi-cumi sehingga para ilmuwan menamainya squidworm atau cacing cumi. Ukuran makhluk misterius itu lebih kurang 9,4 sentimeter.

Cacing cumi itu memiliki sepuluh tentakel yang panjang, menyeruak dari kepalanya. Selain itu, ia juga memiliki enam organ yang disebut nuchal. Organ ini memungkinkannya untuk mengecap rasa dan membaui sesuatu di dalam air.

Makhluk misterius itu ditemukan oleh tiga ahli biologi laut yang dipimpin oleh Karen Osborn dari Scripps Institution of Oceanography in California. Mereka menemukan spesies baru ini setelah melakukan eksplorasi di Laut Sulawesi pada kedalaman 2,8 kilometer menggunakan kapal penjelajah yang dikendalikan dari jarak jauh.

"Saya sangat gembira. Hewan ini sangat menggoda sebab sangat berbeda dengan ciri-ciri hewan yang telah dideskripsikan sebelumnya. Hewan ini punya bagian kepala yang fantastis," ungkap Osborn.

Cacing cumi yang ditemukan oleh ilmuwan tersebut hidup pada kedalaman 100-200 meter di atas dasar laut. Rentang kedalaman itu diketahui merupakan wilayah yang kaya akan spesies yang belum teridentifikasi.

"Ketika saya mengeksplorasi wilayah tersebut, saya memperkirakan ada lebih dari setengah jumlah hewan yang kita lihat merupakan spesies yang belum teridentifikasi," lanjut Osborn.

Cacing cumi yang baru ditemukan itu diberi nama ilmiah Teuthidodrilus samae. Spesies tersebut dikatakan bukan merupakan predator. Mereka memakan campuran tumbuhan dan hewan mikro laut yang tenggelam di kedalaman.

Laut Sulawesi tempat spesies ini ditemukan merupakan wilayah yang terisolasi dari perairan di sekitarnya. Selain itu, kawasan tersebut termasuk dalam kawasan konservasi yang memiliki beranekaragam bentuk kehidupan dan sejarah geologi yang unik.

Cacing cumi yang ditemukan di wilayah tersebut bukan hanya merupakan spesies baru. Sifat-sifat cacing cumi tersebut sangat berbeda dari bentuk kehidupan yang lain sehingga tak hanya membutuhkan nama spesies baru, tetapi juga genus baru, tingkatan taksonomi di atas spesies. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Biology Letters baru-baru ini.

Two New Species Of Orchid Found In Indonesia


Indonesia’s abundant biodiversity has once again been highlighted with the discovery of two new species of orchid in Kalimantan.
An article on the new orchids belonging to the Dendrobium calcariferum section was published in the September edition of Malesian Orchid Journal by Destario Metusala, from the Indonesia Institute of Sciences (LIPI), Peter O’Byrne, an orchid expert from Singapore, and J.J. Wood, a researcher from England’s Kew Botanical Garden, a LIPI statement said.
Destario researched in Kalimantan while O’Byrne and Wood were working in the Malaysian state of Sarawak.
Indonesia’s abundant biodiversity has once again been highlighted with the discovery of two new species of orchid in Kalimantan.
An article on the new orchids belonging to the Dendrobium calcariferum section was published in the September edition of Malesian Orchid Journal by Destario Metusala, from the Indonesia Institute of Sciences (LIPI), Peter O’Byrne, an orchid expert from Singapore, and J.J. Wood, a researcher from England’s Kew Botanical Garden, a LIPI statement said.
Destario researched in Kalimantan while O’Byrne and Wood were working in the Malaysian state of Sarawak.
Dendrobium flos-wanua was named after Vincent Wanua, an orchid enthusiast from Malang, East Java, who contributed to the research. The species is yellowish green in color with squarish petals and two to eight flowers bloom in a single inflorescence.
Dendrobium dianae was named in honor of Dian Rachmawaty, an orchid conservationist. It has plain pale green to shiny deep yellow coloration with red stripes on its sepals and petals and from four to 12 flowers appear in a single inflorescence.
Destario, who is also a botanical researcher based at the Purwodadi Botanical Garden in East Java, said Dendrobium dianae’s uniqueness lay in its variety of colors, something rare for the calcarifera section.
“We discovered that there are at least five color variations of this species and their colors could vary widely,” he told the Jakarta Globe.
He also said that they found more members of the Dendrobium calcariferum section on the island than originally believed. The species were thought to be concentrated on the western part of Indonesia, mainly in Sumatra.
Kuswata Kartawinata, an expert on plant ecology at LIPI, has said that based on the geographical aspect, Indonesia is part of a “coherent floristic region” called Malesia, consisting of Brunei Darussalam, the Philippines, Malaysia, Papua New Guinea, Singapore and Timor Leste, whose vegetation is distinct from the surrounding regions within Southeast Asia, the Pacific and Australia.
Of the estimated 40,000 species of Malesian plants, Kuswata said, 30,000 grew in Indonesia. “This is equal to roughly 10 percent of the world’s flora,” he said.
However, he added that only 60 percent of the country’s native flowering plants have been systematically recorded.
http://goodnewsfromindonesia.org

Interesting Facts About Indonesia


A famous mass media in England, Telegraph, recently published an article about some quite interesting facts in Indonesia . The article was written by Molly Oldfield and John Mitchinson, and posted on October 15, 2010. According to this article, there are 6 interesting facts about Indonesia that we should admire. Most of which are facts that we already knew, but it’s still worth to read. Wonder what they are? Here you go!
Diversity
Indonesia is comprised of 17,508 islands of which only a third are inhabited; some are shared with other countries. With a population of 238?million, it is the fourth most populous country on Earth and the largest Muslim country (86 per cent of Indonesians are Muslim). More than half the population lives on Java, making it the world’s most densely populated island. The other big population centres are Sumatra, Borneo (shared with Malaysia and Brunei) and West Papua (shared with Papua New Guinea). Indonesia is home to more than 300 ethnic groups but most speak Indonesian, a variant of Malay developed in the Twenties by nationalists and adopted as the official language after independence.
Name
“Indonesia” was first used by the British in the mid-19th century. It comes from the Greek nesos (island) and Indus, the Latin name for the land beyond the Indus river, which was derived from the Sanskrit name for that river: Sindhu. Dutch colonists didn’t like “Indonesia”, preferring Dutch East Indies or Malayan Archipelago. As a result, it was adopted by the anti-colonial movement in the early 20th century.
Oil and frogs
Despite being one of the G20 group of leading economies, half of Indonesia’s population live on less than $2 a day. Its oil reserves mean it is the only south-east Asian member of OPEC.
It is the world’s largest producer of palm oil, 40 per cent of which is set aside for use as biofuel. It also exports 3,000 tons of frogs’ legs to France each year. For each pair of boxer shorts costing £8 in a shop in Britain, the Indonesians who make them get 4p. It has been reported that sweatshop workers can put in shifts as long as 36 hours.
Babies’ feet and teeth
The small Indonesian Hindu population mostly lives on the western island of Bali. Balinese Hinduism is steeped in ancient superstitions. They never let a baby’s feet touch the ground for the first six months, to prevent the devil entering the child. This means that babies are continually passed around like hot potatoes by relatives.
Almost everyone in Bali has their teeth filed down. They believe that the essence of the six vices (jealousy, anger, confusion, drunkenness, desire, greed) enters the body through the top six teeth, so by filing away their “demonic” ends, the vices are thwarted and entry to heaven is guaranteed.
The Wallace Line
As well as being ethnically diverse, Indonesia has the second highest level of biodiversity in the world after Brazil, with more endemic species than anywhere else except Australia. The British naturalist Alfred Russel Wallace (1823-1913) described a dividing line between the distribution of Indonesia’s Asian and Australasian species, now known as the Wallace Line. The line runs north-south between Lombok and Bali and was caused by a deep oceanic trench that prevented the formation of any land bridge, even during the Ice Age.
West of the line there are orangutans, monkeys, tigers, rhinos, tapirs, bears and the world’s only lungless frog. Meanwhile in the east there are no mammals except rodents, bats and marsupials. It was Wallace’s work in Indonesia that helped him develop a theory of evolution due to natural selection, the evidence of which finally prompted Charles Darwin into publishing On the Origin of Species in 1859. Wallace’s masterpiece on his Indonesian travels, The Malay Archipelago (1869), is dedicated to Darwin.
Weasel coffee
One of the strangest products of Indonesian agriculture involves the farming of the Asian palm civet (Paradoxurus hermaphroditus). These small, cat-sized mammals are fed coffee berries and their faeces are collected and washed to make kopi luwak (civet coffee). The action of their stomach enzymes lends the resulting drink an unmatched richness of flavour that has none of coffee’s usual bitterness. As a result it is the world’s most expensive beverage, fetching up to £500 per pound.
In 2008 an espresso made from kopi luwak went on sale at Peter Jones department store in Sloane Square, London, for £50 per cup. Apparently a similar coffee can be made by feeding coffee berries to muntjac deer, a south-east Asian species now naturalised in southern England. Home-grown English kopi muncak has yet to be reported.
http://goodnewsfromindonesia.org

KONTROVERSI PENDAPAT STEPHEN HAWKING Alam Semesta Bukan Ciptaan Tuhan?


Fisikawan terkemuka asal Inggris, Stephen Hawking, dalam buku terbarunya yang berjudul The Grand Design berpendapat bahwa alam semesta tak diciptakan oleh Tuhan. Menurutnya, peristiwa Big Bang yang menjadi awal pembentukan alam semesta tercipta akibat hukum gravitasi dan bukan karena adanya campur tangan Ilahi.

"Karena adanya hukum gravitasi, alam semesta bisa dan akan tercipta dengan sendirinya. Penciptaan yang spontan itu adalah alasan mengapa sesuatu itu ada, mengapa alam semesta itu ada, mengapa kita ada," tegas Hawking dalam buku terbarunya itu yang ditulis bersama Leonard Mlodinow, fisikawan asal AS.

Dalam buku yang akan segera terbit pada 9 September mendatang di Inggris itu, Hawking meyakinkan bahwa "M-Theory", sebuah bentuk dari string theory, bisa menjelaskan penciptaan alam semesta. "Tidak perlu membawa-bawa Tuhan seolah-olah Ia yang memicu terciptanya alam semesta," tulis Hawking.

Pendapat Hawking bertentangan dengan Isaac Newton yang mengatakan bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan karena tidak mungkin alam tercipta dari chaos. Pemikiran Hawking yang ditulis dalam buku barunya itu datang dari sebuah observasi pada 1992 yang meneliti sebuah planet serupa Bumi yang mengelilingi sebuah bintang yang mirip Matahari.

"Secara kebetulan kondisinya mirip sistem tata surya kita dengan matahari tunggal, dan kombinasi yang benar-benar sangat mirip antara jarak Bumi-Matahari dan massa matahari sehingga bukan menjadi hal yang luar biasa dan tidak terbukti bahwa Bumi dirancang secara khusus hanya untuk kehidupan manusia," jelas Hawking kemudian.

Hal tersebut bertolak belakang dengan pendapat sebelumnya. Dalam bukunya yang terbit pada tahun 1988, A Brief History of Time, Hawking menegaskan kepercayaannya akan campur tangan Tuhan dalam penciptaan alam semesta. "Jika kita menemukan sebuah teori yang lengkap maka itu akan menjadi kemenangan besar dari nalar manusia. Untuk itu, kita harus mengetahui pikiran Tuhan," tulis Hawking, pada saat itu.

Mengungkap Rahasia di Muara Sungai Opak

Aliran Sungai Opak yang bermuara di Samudra Hindia, tepatnya di wilayah dekat dengan Pantai Parangtritis Yogyakarta, berbelok. Ini fenomena alam yang unik sebab umumnya sungai mengalir ke muara tanpa mengalami pembelokan arah arus.

Fenomena alam itu diteliti oleh dua orang remaja yang tergabung dalam Taman Pintar Science Club, sebuah kelompok sains yang dikelola Taman Pintar, salah satu taman bermain dan belajar yang ada di kota gudeg, Yogyakarta.

"Penelitian kami lakukan dengan observasi di lapangan dan studi pustaka untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi," ungkap Yan Restu Freski, salah satu anggota tim peneliti yang kini belajar di Fakultas Teknik Geologi, Universitas Gajah Mada (UGM), Senin (22/11/2010) di Depok. Ia meneliti bersama rekannya, Darmadi.

Di lapangan, ia mengumpulkan beberapa sampel batuan dan endapan sungai untuk melihat keterkaitannya dengan sebab-sebab pembelokan arah arus. Selain itu, ia juga melakukan studi pustaka, terutama terkait dengan arah angin di lokasi penelitiannya.

"Kami menemukan bahwa angin di wilayah Samudera Hindia di wilayah tersebut berasal dari arah tenggara menuju barat daya," ungkap Yan. Arah angin tersebut mempengaruhi arus laut yang membawa sedimen atau endapan ke daratan. Karena arah angin menuju barat daya, maka arus laut yang menuju ke bibir pantai pun menuju ke barat daya, membawa sedimen menuju ke arah yang sama.

I mengatakan aus laut itu sendiri bertemu dengan arus Sungai Opak. "Arus sungai Opak yang kuat membawa sedimen ke pantai sehingga selain ada sedimen dari laut, ada juga sedimen yang berasal dari darat yang dibawa oleh sungai," jelas Yan. Akhirnya, menurut Yan, arus sungai dan arus laut tersebut akan saling "bertempur" sehingga akan menentukan ada tidaknya pembelokan arah arus sungai di dekat muara.

Yan menerangkan, jika arah arus sungai Opak lebih kuat dari arus laut, maka arah arus sungai yang berdekatan dengan muara akan tetap lurus, tanpa membelok. Sementara, jika arus sungai tak cukup kuat, maka arah arus sungai akan membelok, seperti yang dialami oleh Sungai Opak. "Pertempuran" antara dua arus itulah yang menurut Yan menentukan ada atau tidaknya pembelokan arah arus di dekat muara sungai.

"Sepertinya di sini arus Sungai Opak yang kalah, jadi arus sungai membelok" simpul Yan.

Yan mengungkapkan, pembelokan arah arus sungai menjelang muara ini tak hanya terjadi di Sungai Opak saja. "Pembelokan terjadi mulai dari Sungai Opak hingga ke wilayah barat, sampai Cilacap, Jawa tengah," ungkap Yan. Jadi, ada beberapa sungai hingga wilayah Cilacap yang ikut berubah arah ketika hendak mendekati muara, beberapa diantaranya adalah Sungai Progo, sungai serayu dan Sungai Bogowonto.

Pembelokan arah yang hanya terjadi di wilayah sungai Opak hingga Cilacap itu terkait dengan sifat batuan yang ada di bibir pantai. "Kami membandingkan dengan Gunung Kidul. Di sana, batuan yang ada di bibir pantai adalah batu kapur yang besar, jadi arus sungai tak bisa bisa berbelok. Sementara, di kali Opak hingga Cilacap, daerah pantai terdiri atas batu-baru kecil dan pasir sehingga arus sungai mudah melawannya," jelas Yan.

Nah, sejak kapan aliran Sungai Opak itu berubah. Yan mengatakan, "Kami belum menelitinya." Mungkin perlu kajian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi sebab-sebab perubahan tersebut, sekaligus berbagai proses alam yang mungkin mempengaruhinya.

Penelitian Yan dan darmadi menjadi salah satu finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja ke 42 yang diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Keduanya mempresentasikan karyanya di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jawa Barat bersama 14 peserta lainnya, Senin hari ini.

GUNUNG BROMO "Warisan" Gunung Purba


Ketika muncul laporan mengenai gunung purba di kawasan Danau Toba—danau tersebut adalah kalderanya—banyak di antara kita waswas. Berdasarkan catatan sejarah, ternyata gunung purba bukan semata monopoli Danau Toba. Salah satu gunung purba lainnya memiliki kaldera yang kita kenal sebagai kaldera pasir Tengger.
Kaldera adalah pusat letusan yang diameternya lebih dari 2 kilometer, sedangkan kawah adalah pusat letusan yang berdiameter kurang dari 2 kilometer.
Menurut Kepala Subbidang Pengamatan Gunung Api Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi Direktorat Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Agus Budianto, ketika dihubungi dari Jakarta, Rabu (24/11/2010), Gunung Bromo di Jawa Timur merupakan gunung yang muncul akibat aktivitas Gunung Bromo purba pada masa lalu. Belum jelas berapa puluh ribu tahun yang lalu gunung purba tersebut meletus.
”Kalderanya adalah kaldera pasir yang kita kenal sekarang. Di sekitar kawasan kaldera pasir kemudian muncul beberapa gunung selain Gunung Bromo, di antaranya adalah Gunung Batok dan Gunung Widodaren. Model kaldera seperti ini amat umum di Indonesia. Ini berasal dari gunung yang besar sekali, megavulkano. Selain kaldera Bromo dan kaldera Danau Toba, juga ada kaldera Krakatau yang melahirkan Gunung Anak Krakatau, kaldera Batur yang melahirkan Gunung Anak Batur yang sekarang ada, dan kaldera Maninjau untuk Gunung Maninjau,” tutur Agus.
Kaldera Danau Toba, yang meletus sekitar 70.000 tahun lalu, menurut dia adalah hasil dari aktivitas vulkano dan aktivitas tektonik.
Dari catatan yang ada pada Babad Ngayogyakarta, Gunung Bromo meletus pada 28 Desember 1822 dan baru berhenti pada Januari 1823. Pada tahun 1822 pula meletus Gunung Merapi (Kompas Yogyakarta, 19/11), Gunung Slamet (Jawa Tengah), Gunung Kelud (Jawa Timur), dan Gunung Guntur (Jawa Barat). Pada tahun yang sama lima gunung meletus.
Meletus di tahun bersama
Sementara berdasarkan buku Data Dasar Gunung Api Indonesia terbitan 1979, Gunung Bromo tercatat meletus pada tahun 1822 bersama dengan Gunung Merapi, Gunung Galunggung, dan Gunung Lamongan. Buku katalog referensi gunung api Indonesia dengan letusan dalam waktu sejarah ini dikumpulkan dari berbagai referensi yang ada sejak zaman kolonial.
Berdasarkan data di buku tersebut, Gunung Bromo telah meletus sebanyak 43 kali—ditambah letusan pada tahun 2004. Namun, situs http://geodesy.gd.itb.ac.id menyebutkan telah meletus 50 kali sejak tahun 1775. Catatan dari Data Dasar Gunung Api Indonesia, letusan tertua adalah pada tahun 1804.
Menurut Neumann van Padang (Data Dasar Gunung Api Indonesia, 1979) dalam kaldera pasir tersebut dari Pegunungan Tengger ada tujuh pusat letusan dalam dua jalur yang bersilangan, satu pada arah timur-barat dan yang lain jalur timur laut-barat daya. Gunung Bromo berada pada aksis timur laut-barat daya.
Gunung ini merupakan satu-satunya gunung api yang masih aktif dari warisan Gunung Bromo Purba. Kawah di arah timur-barat garisnya mencapai 600 meter, sementara kawah di arah utara-selatan garis tengahnya 800 meter. Sebuah undak menunjukkan, pusat letusan bergerak ke jurusan utara. Pada Maret 1983 terbentuk sebuah danau di kawahnya.
Pada sejarahnya, letusan Gunung Bromo tidak mengalirkan lava pijar. Abu vulkaniknya pernah tercatat merusak perkebunan di sekitarnya pada letusan yang terjadi tahun 1915 dan 1948. Letusan terpanjang terjadi tahun 1842, yaitu pada 24 Januari hingga Juni.
Dari situs yang sama tertulis letusan terakhir terjadi pada 8 Juni 2004 dan benar-benar berakhir pada 9 Juni 2004. Letusan besar hanya terjadi sekitar 20 menit. Letusan bersifat freatik, membentuk kolom abu berketinggian hingga 3.000 meter di atas bibir kawah. Material abu dan batu kerikil tersembur hingga radius 300 meter (bandingkan dengan abu Merapi yang bisa menjalar melalui awan panas hingga lebih dari 4 kilometer).
Data yang dimuat pada situs http://geodesy.gd.itb.ac.id dari Kelompok Keilmuan Geodesi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB tentang Pemantauan Deformasi Gunung Api Bromo dengan GPS, gunung api tipe A ini adalah gunung api yang termuda di kawasan kaldera Tengger, yaitu Gunung Widodaren, Kursi, Segorowedi, dan Batok.
Kaldera Tengger sendiri dalam situs itu disebutkan berukuran 9 kilometer x 10 km yang dikelilingi tebing curam dengan ketinggian antara 50 meter dan 500 meter. Jajaran gunung di dalam kaldera dikelilingi batuan vulkanik Gunung Tengger purba—yang disebut oleh Agus sebagai Gunung Bromo Purba.
Dan kini, kaldera pasir tertutup untuk aktivitas apa pun. Padahal, pada saat Bromo ”istirahat”, kaldera tersebut, terutama pada akhir pekan, akan dipadati wisatawan dalam negeri dan mancanegara. Mereka rela berdingin-dingin untuk menikmati merekahnya fajar pertama yang bisa disaksikan dari pinggiran kaldera. Sebuah keindahan yang membisukan....

Wow, Ada Ikan Tak Bermata dari Papua


Ikan tak bermata dan katak yang membawa telur di bagian punggungnya adalah dua dari beragam jenis spesies baru yang ditemukan di sebuah gua di Papua.

Tim peneliti dari Institute Research and Development (IRD) di Montpellier, Perancis menemukannya dalam rangkaian ekspedisi penelitian di gua, sungai bawah tanah hingga hutan belantara di wilayah Lengguru, bagian selatan wilayah leher burung Papua.

"Dalam hal penemuan hal baru, ada banyak hal yang harus diselesaikan di daerah itu, daerah yang sangat sulit untuk diakses tetapi memiliki keragaman hayati yang mengagumkan," kata salah seorang ilmuwan dari IRD, Laurent Pouyaud, dilansir AFP, Jumat (26/11/2010).

Para ilmuwan yang terdiri dari biolog, paleontolog dan arkeolog menelusuri wilayah penelitian tersebut selama tujuh minggu. Wilayah itu dikatakan merupakan labirin tanah kapur yang memungkinkan spesies yang tinggal mengalami isolasi selama jutaan tahun lamanya.

Ikan yang tak memiliki mata serta tak berwarna karena tidak mengalami pigmentasi (produksi pigmen yang menentukan warna kulit) yang ditemukan di salah satu gua adalah penemuan yang paling mengagumkan. "Ikan ini, sepengetahuan kami, merupakan jenis ikan gua pertama yang ditemukan di wilayah Papua," kata Pauyaud.

Sementara para biolog terpesona oleh ikan tanpa mata, para arkeolog juga terpikat oleh temuan lukisan di dinding gua yang dibuat dari alat berbahan cangkang hewan. Temuan tersebut bisa menjadi bukti adanya migrasi orang-orang Asia ke Australia sekitar 40.000 tahun yang lalu.

Penelitian ini merupakan langkah pertama dari sebuah proyek yang direncanakan akan mempelajari keragaman hayati di wilayah Indonesia. Riset tersebut merupakan kerjasama Kementrian Kelautan dan Perikanan dengan perguruan tinggi sains.

Pouyaud mengatakan, keanekaragaman hayati di Papua sendiri saat ini terancam oleh rencana perluasan lahan perkebunan dan tambang.

Thursday, 2 December 2010

Riset: Pemimpin yang Baik Harus (Sedikit) Sombong


Selain harus memiliki sifat ramah dan tenang, seorang pemimpin juga ternyata harus membumbui sikap mereka dengan sifat negatif. Bos yang baik ternyata juga harus sedikit picik, angkuh dan kadang tidak fleksibel.

Penelitian yang dilakukan oleh psikolog dari University of Nebraska ini menyebut sifat tersebut dengan 'sisi gelap' yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dan akan meningkatkan kemampuannya untuk memerintah .

Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa kualitas kepribadian yang positif, seperti ekstroversi, stabilitas emosional dan kesadaran, memiliki efek bermanfaat pada kinerja dan perkembangan para pemimpin.

"Kami meneliti psikologis pada sekira 900 perwira di Akademi Militer AS di West Point, New York. Hasilnya, ketika seorang pemimpin itu bersikap baik maka kami menilainya sebagai orang yang baik. Tapi ketika terlihat buruk, dia akan kelihatan lebih baik," ujar Profesor Peter Harms, ketua tim penelliti dari University of Nebraska, seperti dikutip melalui Telegraph, Kamis (21/10/2010).

Penelitian ini menggunakan Hogan Development Survey, sebuah tes kepribadian yang dirancang untuk mengetahui sifat-sifat negatif objek.

Beberapa dari 12 ciri-ciri yang dimaksud dengan 'sisi gelap' seperti yang terkait dengan narsisme, terlalu dramatis, kritis terhadap orang lain dan menjadi sangat terfokus pada sebuah aturan, sebenarnya meningkatkan kemampuan kepemimpinan.

"Dengan sendirinya, sifat-sifat subklinis memiliki efek cukup kecil, namun bila digabungkan, mereka memainkan peran penting dalam menentukan siapa yang sebenarnya memiliki potensi menjadi seorang pemimpin," kata Prof Harms.

Namun, lanjut Profesor Peter, 'kandungan' sisi gelap itu tidak akan berarti jika 'dosis'nya terlalu besar. Artinya, 'sisi gelap' yang dicampur terlalu banyak dengan sifat baik tidak akan membuat seorang menjadi pemimpin besar, malah akan membuat menjadi sebaliknya.

"Sisi gelap yang terlalu banyak akan dianggap sebagai zat adaptif, yang berujung pada penilaian bawahan bahwa hal itu merupakan sifat, kepribadian, dan kebiasaan yang murni dimiliki oleh atasannya. Dan ini tidak akan baik bagi karir sang atasan," ujar Profesor Peter.

Dua belas sisi negatif yang dirangkumkan oleh Hogan Development Survey diantaranya adalah volatilitas (pendirian yang berubah-ubah), mistrustfulness (penuh rasa curiga), hati-hati, detachment (tidak terpengaruh apapun), pasif, agresif, sombong, manipulativeness (berbuat curang), overdramatic (terlalu mendramatisir), perfeksionisme, eksentrik , dan ketergantungan.